KAMI TERLUPAKAN

kami mati terlahap janji, membakar setiap bait-bait iman, menepi pada luas sesal tak bertepi. Kami berteriak kecewa, namun tersisa hanya gema tak terjawab.

Kalian lupa, lupa pernah menyumbang janji pada mimpi kami. Tapi kami sudah mati, berteriak menagih. Kami telah tak suara lagi, tenaga tak lagi milik kami.

“turunkan harga” jerit kami bias

Kini di tapal waktu, kami berkendara

mungkin saja adil berpihak atau sama aja, dibungkam kemewahan.

Aziz Dur

Paser, 101118

Iklan

MATI LAGI

Aku mati menjelma sunyi

Dibait rindu berdawai melati

Digema-gema kematian lagi

Sekali lagi berakhir mati

Aku lagi-lagi sepi

Tak bergerak apalagi lari

Diam, mulai raib di ujung dusta yang kehilangan detak, bersama waktu

Aku lagi-lagi mati

Ditikam belati sunyi berlumur rindu

Dijerat simpul dusta terikat janji

Aku mati lagi

Mungkin rindu, atau simfoni sunyi bernada luka, atau juga takdir melati di ujung senja

Aziz Dur

Paser, 091118

Kembali Hujan

Hujan kembali menyapa

Menghapus jejak dahaga

Menyirami kembali layu asa

Terbitlah semacam senyum di ujung senja

Hujan kembali turun

Menghapus lupa menahun

Rindu terkurung duka

Mekar kembali muda

Hujan kembali lagi

Seolah menolak lupa

Pada senyap khianat beranjak pulang

Kembali pada luka.

Paser, 201018

Pahamilah

Bagimu ini kenangan

Bagiku tragedi

Bagimu ini semacam mimpi disiang hari

Lenyap begitu terjaga

Hilang tak berjejak

Bagiku…??

Entahlah, tak mampu terukir

Tak mampu dirangkai huruf untuk menjadi kata

Tak sanggup diucap bibir untuk menjadi nada

Begitu rumit, tak tersentuh aksara dan bahasa

Andai saja kau paham

Mungkin kau tak keluhkan lukaku.

Paser, 101018