Debu di musim penghujan

Aku bagaikan debu dimusim penghujan, yang raib pada rinai pertama. Yang kemudian menjadi kenangan disimpul kisah, bagian penting namun tak utama. bahkan mulai memudar dilahap masa.

Menghilang kisah usang, yang terhapus jejak kaki pada hujan pertama. Rintiknya menguap dibalik senyum tertutup kabut duka, tersisa hanya genangan lalu diam-diam jadi pengerat luka, mengering dan hilang.

Debu dan hujan,

kau dan aku,

selasai, tak berbekas

tersisa kenangan

tersisa genangan

tanapaser, 251118

Iklan

LARI

Sunyi merambat dibalik dahan kering
melambai asih paling asing
menari sajak tak puan usang
usai senja berlari pulang

menatap rindu paling debur
yang rasanya terus berdetak
tak goyah, malah makin berdebar
melampaui dakhil paling dakik

senyum indah menawan sukma
dibalik asuh yang merona
memimpin tingkah paling derma
menepikan risau di sudut muka

kau cantik
kau hilang
hingga takdir berwajah dadai
bergumul ilusi paling mimpi

Aziz Dur

Paser 2018

KAMI TERLUPAKAN

kami mati terlahap janji, membakar setiap bait-bait iman, menepi pada luas sesal tak bertepi. Kami berteriak kecewa, namun tersisa hanya gema tak terjawab.

Kalian lupa, lupa pernah menyumbang janji pada mimpi kami. Tapi kami sudah mati, berteriak menagih. Kami telah tak suara lagi, tenaga tak lagi milik kami.

“turunkan harga” jerit kami bias

Kini di tapal waktu, kami berkendara

mungkin saja adil berpihak atau sama aja, dibungkam kemewahan.

Aziz Dur

Paser, 101118

MATI LAGI

Aku mati menjelma sunyi

Dibait rindu berdawai melati

Digema-gema kematian lagi

Sekali lagi berakhir mati

Aku lagi-lagi sepi

Tak bergerak apalagi lari

Diam, mulai raib di ujung dusta yang kehilangan detak, bersama waktu

Aku lagi-lagi mati

Ditikam belati sunyi berlumur rindu

Dijerat simpul dusta terikat janji

Aku mati lagi

Mungkin rindu, atau simfoni sunyi bernada luka, atau juga takdir melati di ujung senja

Aziz Dur

Paser, 091118

Kembali Hujan

Hujan kembali menyapa

Menghapus jejak dahaga

Menyirami kembali layu asa

Terbitlah semacam senyum di ujung senja

Hujan kembali turun

Menghapus lupa menahun

Rindu terkurung duka

Mekar kembali muda

Hujan kembali lagi

Seolah menolak lupa

Pada senyap khianat beranjak pulang

Kembali pada luka.

Paser, 201018